Home » Track & Touring » Memburu Tanjakan ke Pondok Pemburu

Memburu Tanjakan ke Pondok Pemburu

Kenangan bersepeda tahun 2006 ke Pondok Pemburu – Gunung Pancar bersama rekan-rekan JPG Mountain Bike Park  masih membekas di hati, tanjakan 6 km tanpa ampun tidak membuat kapok untuk bersepeda kesana.

Setelah 5 tahun tidak kesana saya semakin penasaran seperti apa sih sekarang kondisi tracknya. Akhirnya saya dengan 7 orang teman iseng napak tilas jalur itu dan coba mencari jalan untuk tembus ke Sebex, track Downhill. Kami menyusuri track ini hari Sabtu 25 Juni 2011. Modal perjalanan menuju lokasi tujuan hanya GPS saja dan beberapa waypoint seperti Bojongkoneng, Pondok Pemburu dan Sebex, itu dirasa cukup untuk menemani perjalanan kami.

Perjalanan kali ini diawali dari sentul, kalau dari Jakarta anda keluar pintu tol Sentul City dan carilah parkiran mobil yang aman di sekitar tempat itu, ada beberapa ruko yang menjadi tempat parkir mobil.

Untuk mencapai Pondok Pemburu ada 2 cara, mengayuh menyusuri aspal 10 km ke arah bojong koneng (Km 0 ) atau menggunakan angkot.

Track ke bojong koneng diwarnai dengan tanjakan aspal memalui cijayanti raya, bukit pelangi dan Bojong Koneng.

Cara kedua dengan sewa angkutan kota yang bisa anda cari di daerah babakan madang. Setiap angkot bisa mengangkut 4 MTB dan 4 orang.

Selanjutnya dropping zone tetap di bojong koneng atau biasa disebut kilometer no (Km 0)

Track yang akan dilalui ke Pondok Pemburu hanya 1 kata saja… tanjakan… hehehe track ini pendek dan menyenangkan hanya tanjakan tanpa henti sejauh 5,5 km (15 % aspal 85% jalan tanah campur batu) area gowes dan profile track dapat dilihat di gambar berikut

Di Bojong Koneng ada warung nasi, sebaiknya bekal nasi dan air putih yang banyak karena sepanjang perjalanan ke Pondok Pemburu anda tidak akan menemui warung.

Menyusuri tanjakan aspal masih terasa ringan dan menyenangkan kami 8 orang gowes dengan diiringi musik dari sepeda Pandhu sehingga perjalanan ini terasa semakin menyenangkan, ternyata kondisi awal ini sudah banyak berubah, jalanan yang dulu makadam dan offroad sudah berubah menjadi aspal mulus.

Terus menikmati tanjakan sampai kami ketemu Villa salah satu petinggi di negara kita, itu adalah check point berikutnya sebelum kami masuk track tanah dan lagi-lagi tanjakan.

Sedang enak-enaknya nanjak, posisi saya sedang paling depan, tenaga sedang full dan sedikit lagi sampai di depan villa itu… eeaalahhhh sekonyong-konyong dari balik pagar ada 2 makhluk berbulu tebal loncat, menggonggong keras dan berlari ke arah saya… eeebusettt itu anjing herder gede amat… dengkul mendadak lemas dan cleat mendadak susah dibuka, sepeda mendadak berganti fungsi jadi pagar antara saya dengan dua herder besar itu, untung di belakang herder galak itu ada pawang lari tergopoh-gopoh dan teriak “Pak diammm jangan bergerak !!!” piuhhhhh herdernya berhenti tapi tetap dalam posisi siaga penuh, dan perlahan kembali ke arah tuannya.

Perjalanan semakin nikmat ketika kami dihidangkan tanjakan offroad, wajah-wajah ceria mulai terlihat dan tetesan keringat menjadi pendingin alami di wajah kami semua.

Track yang kami lalui adalah campuran tanah dan bebatuan besar, seringkali roda sepeda spin dan susah dikendalikan, di awal-awal tanjakan beberapa rekan terlihat bersemangat, namun apa daya tanjakan ini memang tidak ada ampun, tidak ada turunan sedikitpun, beberapa orang terlihat sudah mulai kelelahan dan mulai TTB (TunTunBike)

Rasa lelah semakin mendera kami, nafas semakin memburu, keringat semakin deras mengucur dan kaki sudah mulai terasa bengkak, pandangan tidak berani kami arahkan jauh ke depan karena akan menurunkan semangat kalau melihat hanya ada tanjakan di depan.

Tidak jauh di depan kami lihat ada pohon rindang dan pemandangan di sebelah kiri cukup indah untuk memanjakan mata kami, sementara sebelah kanan hanya ada tebing saja, kami memutuskan untuk istirahat sejenak melepas lelah

Beberapa kali kami harus berhenti istirahat untuk melemaskan otot, padahal jarak menuju Pondok Pemburu hanya 5,5 km saja. Jalanan ini sebetulnya bisa dilewati oleh mobil offroad dan sepanjang jalan kami hanya bertemu dengan 1 mobil jeep saja, mereka supply bahan-bahan kebutuhan sehari-hari untuk penduduk di atas sana. Jalanan cukup lebar dan rindang oleh pepohonan

Di ujung jalanan kami kembali melihat pohon rindang dan dirasakan pantas untuk dijadikan tempat istirahat lagi lagi dan lagi lagi istirahat… sungguh terlalu

Tak lama kami duduk melemaskan otok kaki, bergegas kami mengayuh sepeda menuju Pondok Pemburu, kali ini udara lumayan dingin dan angin sepoy berhembus menerpa wajah… Pondok Pemburu sudah dekat dan akhirnya kami sampai disana, segera sepeda kami parkir rapih, segala perlengkapan lenong di badan dilepas untuk melancarkan peredaran darah.

Di pondok pemburu kita bisa pesan indomie rebus, kopi susu dan teh manis, lumayan untuk mengisi perut dan kami bisa rehat untuk mengumpukan tenaga, terutama tangan karena track berikutnya 15 km full turunan tanpa ampun.

Semua merebahkan badan di teras pondok, semilir angin gunung terasa bersahabat bagi badan kami, beberapa rekan mulai tertidur, jatah istirahat kami hanya 1 jam saja dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya

1 jam istirahat dirasa cukup untuk memulihkan tenaga kami, lanjut menyusuri jalan menuju Sebex area downhill, sebelumnya kami harus melalui single track yang dipenuhi turunan curam, belokan tajam dan jurang di kanan kiri kami.

Karakter turunan adalah tanah berbatu kadang-kadang ada akar melintang, semak-semak dan tentunya hidangan spesial.. jurang di kanan kiri kami.

Salah duga, beberapa teman berpikir bahwa sajian turunan kali ini tidak melelahkan, ternyata menuruni track ini menguras tenaga terutama tangan dan konsentrasi harus penuh pada jalur yang dilalui, salah perhitungan sedikit kami akan masuk jurang, baru saja ada penduduk lewat dan bercerita bahwa baru saja ada yang jatuh kecemplung jurang… hmmmm amit-amit jabang bayiiii.. ketok sadle sepeda 3 kali

Sabetan ranting pohon dan daun-daun berduri acapkali mampir di lengan, kaki dan muka kami, fungsi protector tangan dan kaki terasa benar fungsinya selain itu kacamata yang digunakan sangat bermanfaat menyelamatkan mata kami.

Turunan semakin curam beberapa rekan mulai turun dari sepeda dan turun menemani sepeda menyusuri turunan curam ini, sebetulnya asik kalau sepeda tetap kita naiki, deru nafas berpadu dengan suara gesekan ban serta bantingan suspensi sepeda di tanah menambah rasa gembira dan menaikan adrenalin kami

Turunan kami lalui dengan penuh tawa dan teriakan saat ada yang jatuh dan nyusruk hihihi, lelah juga tangan ini menahan beban, di depan kami ada tanjakan kecil menuju pohon rindang.. lumayan juga ini tempat, pemandangannya bagus dan teduh, ini yang dinamakan bukit angin.

Pemandangan dari Bukit Angin ini sangat indah dan tempatnya rindang, semilir angin terus terasa menerpa tubuh, kacau nih kelamaan disini bakalan ngantuk, tidak berlama-lama istirahat disini, kami kembali menyusuri turunan curam dengan tujuan Sebex.

Setelah bukit angin ini turunannya benar-benar enak dan bersahabat bagi kami, karakter tracknya mirip track DH Cikole Bandung, sepeda kami menari di sela-sela pohon pinus, konsentrasi harus penuh dan pandangan tajam ke arah track di depan kami, keputusan harus cepat dibuat atau nyusruk nabrak pohon.

Entah berapa kilometer track ini kami lalui karena seperti tak ada habisnya, akhirnya sampai juga di ujung bawah track, terdengar canda tawa anak-anak kecil, ternyata kami sampai di perumahan penduduk.

Berhenti sejenak untuk check posisi melalui GPS, ternyata menuju Sebex tidak jauh lagi, mengayuh di sela-sela perumahan penduduk menuju warung terdekat karena air sudah menipis

Menjelang ujung turunan yang lumayan curam kami melihat perumahan dan mendadak di depan ada jembatan kecil, sepeda harus segera dibelokan atau nyemplung kali,  rudi kaget dan tidak sempat membelokan sepedanya ke arah jembatan tapi dia belok ke teras rumah orang, dannn…parahnya Arie yang ada di belakang rudi ikut belok ke teras rumah orang itu..hahahaha dia ikutan mampir… permisi pak….

Lepas dari perumahan itu kami menyusuri sedikit jalanan aspal dan nyebrang sungai kecil  menuju pemandian air panas Giritirta, sayang hari sudah mulai sore, kalau tidak pasti kami sempatkan diri untuk mandi air panas di tempat ini.

Dari pemandian air Panas Giritirta kami disuguhi beberapa tanjakan kecil.. aspal dan banyak batu kerikilnya, lumayan juga menguras tenaga, namun terbayar karena tidak jauh dari situ kami sampai di Sebex.

Seperti melihat mainan mengasyikan, kami masuk track downhill Sebex, track sedang sepi, enak nih untuk loncat-loncatan disini, 8 sepeda mulai masuk track dan teriakan-teriakan senang terdengar nyaring memekik saat posisi sepeda loncat di udara… uhhuuyyyyyyy

Tidak seberapa jauh dari batu meja kami melihat ada beberapa orang sedang melakukan sesi foto…permissiiii ommmm…. posisi sepeda sedang kencang dan loncat lagi tepat di depan mata mereka… maaf ya om sedang enak loncat inihhh

Akhirnya sampai juga di ujung bawah track sebex, kembali kami menyusuri aspal menuju tempat parkiran mobil dan tentunya tidak lupa mampir mengisi perut di Pondok Sate Kiloan.

Track ini benar-benar asyik, beratnya tanjakan selalu dibayar lebih oleh turunan-turunan yang mempompa adrenalin… Silakan mencoba track ini dijamin ketagihan dan ingin mengulangnya.

Peta GPS dapat di download di :

http://www.everytrail.com/view_trip.php?trip_id=1157050

SALAM TANJAKAN

http://ceritasepeda.com

Posted in Track & Touring and tagged as , , ,

2 comments on “Memburu Tanjakan ke Pondok Pemburu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>